Selama ini aku selalu berharap mampu menjalani semuanya sebaik mungkin. Namun sering kali banyak hal yang di luar dugaan, apalagi ketika kita menjali suatu hubungan yang indah, cantik dan penuh makna. Sesaat aku berpikir, pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, moment penuh makna dari mulai yang sedih, bahagia, memalukan, menggila hingga tangis keraguan.
Hidupku adalah dimana dalam setiap langkahku, aku mampu mengumpulkan puing-puing pelajaran yang dengan curahan cinta-Nya dalam setiap goresan tintaku, mampu terbentuknya sebuah tulisan bermanfaat.
Dienstag, 2. Oktober 2012
Donnerstag, 27. September 2012
Karena Bahagia itu Sederhana
Dulu aku selalu berharap bisa menjadi dokter atau pengusaha kaya raya. Kata mamah, dokter itu hidupnya bahagia, punya banyak uang, nggak akan merasakan sakitnya menahan lapar seperti kita, selalu bisa makan ena
k, makanan sehat dan bergizi, dan lagi terlihat hebat dimata orang-orang. Hingga aku benar-benar mantap ingin jadi dokter.
Mittwoch, 26. September 2012
Kesempatan yang Sama Takkan Datang Dua Kali
Tiba-tiba saja saya teringat ke beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika guru madrasah saya mengatakan kalimat ini,“Murid-muridku yang tak lain adalah hamba Allah, ingatlah bahwa Allah takkan membe
rikan kesempatan yang besar dalam waktu yang berdekatan dan pada kejadian yang sama. Yang artinya kesempatan itu hanya datang sekali, untuk mendapatkan kesempatan berikutnya mungkin kita harus menunggu untuk waktu yang cukup lama dan pasti kesempatan tersebut datang dalam hal yang berbeda. Maka selama Allah menunjukkan kepada kita kesempatan untuk beramal, berjihad dijalan-Nya, dan menyebarkan ilmu-ilmu-Nya, tolong sampaikan walau hanya satu ayat, tolong lakukan walaupun sederhana. Karena tak ada satu orang pun yang mampu menjamin bahwa kesempatan itu akan datang untuk yang kedua kalinya.“
Dienstag, 25. September 2012
Berhakkah Kita Menilai?
Sering kali saya dengar, ketika saya dijalan atau bahkan mendengar langsung dari mulut orang-orang yang saya kenal. „Ih kenapa yah si A mau aja nikah dengan si B, padahal si B itu kurus, item, jelek, pesek pul
a. Atau padahal si B itu cacat, gemuk, untuk mengurus dirinya saja tidak becus bagaimana ingin mengurus pasangannya, bahkan yang ada hanya bisa merepotkan saja.“
Long Distance
Percaya ga sih kita sama sebuah hati. Ikatan rasa tanpa kepastian nyata. Tanpa ada ucapan cinta atau waktu istimewa untuk mengungkapkan apa yang dirasa. Tak memiliki waktu untuk mengetahui bahkan memperhatikan apa yang sedang dilakukan. Ketika semua berdiri dalam ketidak pastian atau bahkan menatap dan mendengar suaranya saja seolah tak memiliki kesempatan. Namun ternyata itulah sebuah kepercayaan rasa.
Abonnieren
Posts (Atom)



