Montag, 9. April 2012

Pengaruh Teman dalam Pembentukan Kepribadian

Dari sudut pandangku teman cukup berpengaruh besar dengan terbentuknya kepribadian kita bahkan tak jarang, kita lebih mendengarkan nasihat atau apapun yang dikatakan oleh teman daripada orang tua. Padahal jika kita mau berpikir, hal yang harus kita tahu ORANG TUA ITU SLALU INGIN YANG TERBAIK UNTUK KITA, dan yang perlu kita ketahui tak semua teman itu baik.
Apalagi kalau mengingat sikap solidaritas, aku pernah bertanya kepada seseorang, "Alasan apa yang membuat kamu ikut-ikutan tawuran?" Dan dia menjawab, "Kan solidaritas Nda." Solidaritas yah? Oh kalau ada yang mengajak merokok, minum-minuman keras dan drugs, dan mengatas namakan SOLIDARITAS, apakah sikap solidaritas itu tepat? Kalau menurutku, sikap solidaritas itu dimana kita membantu teman yang tertinggal pelajarannya dengan meminjamkan catatan, atau membantu teman untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. "Kan sama-sama bareng temannya Nda?" Yah beda. Sama dari mana toh? Dari kata Solidaritas aja yang aku tangkap nilai positif kok, nah lalu tawuran, minum-minuman keras, drugs dan hal-hal negatif lainnya, kayaknya ga pantes dhe kalau disandingkan dengan alasan solidaritas.


Dari pengalamanku, aku yang dulunya memakai jilbab hanya ketika disekolah dan madrasah saja, kini lebih sering memakai jilbab karena pengaruh dari teman-temanku. Teman-teman dikelasku itu pengetahuan agamanya lebih dalam dari pada aku, lalu kami sering membahas masalah-masalah kehidupan bersama-sama sebagai selingan kejenuhan mengerjakan tugas sekolah, dan aku memang orangnya pilih-pilih. Lho kok gitu? Yah dong, jadi orang kan harus punya prinsip, lah orang kita aja kalau mau daftar sekolah kan pilih-pilih dulu, lihat-lihat mana yang bagus, mana yang dikenal. Yah harusnya itu pun berlaku dalam memilih teman. Kalau aku pribadi, aku ga pernah lihat teman apakah dia kaya atau miskin, yang aku lihat adalah dia itu tulus, baik, kalau bisa lebih pintar dan lebih rajin dari saya (pintar ilmu agamanya, rajin shalat, rajin ngaji, rajin belajar) biar nanti aku ketularan rajinnya, ketularan baiknya, ketularan agamisnya. Toh saya yakin pasti disetiap kelas ada yang pintar, ada yang agamisnya, ada yang rajinnya. Duh gengsi ah mau belajar dari mereka, malu. Lho kok malu? Maluan belajar sama mereka atau malah ga akan pernah tahu dan bisa? Hayo lebih maluan mana? Saya malah senang kalau ada yang pintar trus saya bisa menuntut ilmu dari mereka. Malah kadang kalau penjelasan dari guru kurang atau ga bisa diterima otak saya, saya akan bertanya sama teman untuk menjelaskan ulang, maklum otak saya kan lemot.hehehe


Teman yang baik itu akan mengajak kita ke hal yang baik pula. Jadi bohong kalau ada yang bilang kita teman baik mereka, sedangkan mereka malah mengajak kita ke hal-hal yang negatif dan merugikan orang lain. Lah kan katanya teman baik? Kata "Baik" sendiri kan artinya hal positif, kalau memang dia atau mereka teman baik kita maka mereka akan menularkan ha-hal yang baik dan membawa aura positif pada pembentukan kepribadian kita. So, kita harus pilih-pilih dalam berteman. Lebih baik dianggap sok pilih-pilih, daripada nanti kita terjerumus kedalam kehinaan dan penyesalan. Mencegah kan lebih baik daripada mengobati.

Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Kommentar veröffentlichen